Tes psikotes kerja sudah jadi bagian tak terpisahkan dalam tahapan rekrutmen karyawan di banyak perusahaan. Hampir semua proses rekrutmen menyertakan psikotes sebagai salah satu tahap seleksinya. Meskipun sudah jadi hal umum, psikotes kerja bukan sekedar tahapan seleksi yang sifatnya formalitas saja. Bahkan, psikotes kerja bisa dikatakan merupakan faktor penentu keberhasilan perusahaan menemukan kandidat terbaik.
Jika CV dan wawancara hanya menampilkan “apa yang terlihat”, maka tes psikotes membantu perusahaan memahami “bagaimana seseorang benar-benar bekerja”. Pendekatan ini sejalan dengan konsep Requisite Organization dari Dr. Elliott Jaques, yang menekankan bahwa efektivitas organisasi sangat ditentukan oleh kesesuaian antara kapasitas individu dan kompleksitas peran yang dijalankan.
Berikut lima alasan mengapa tes psikotes menjadi kunci keberhasilan rekrutmen karyawan.
1. Tes Psikotes Membantu Memahami Kandidat Secara Lebih Komprehensif
CV dan wawancara kerja cenderung hanya bisa memberi informasi tentang latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, dan kemampuan komunikasi kandidat. Padahal, kandidat yang terlihat meyakinkan di CV dan wawancara tidak selalu menjadi karyawan yang sempurna. Banyak kandidat yang punya CV menonjol dan lancar ketika wawancara, tapi kesulitan beradaptasi saat mulai bekerja. Alasannya karena skill dan pengalaman saja belum menjamin kinerja yang konsisten.
Banyak kasus menunjukkan bahwa kandidat yang tampil meyakinkan saat wawancara justru kesulitan beradaptasi ketika mulai bekerja. Penyebabnya adalah faktor-faktor seperti cara berpikir, kepribadian, pengelolaan emosi, dan motivasi kerja—yang tidak mudah terungkap melalui wawancara saja. Di sinilah tes psikotes berperan penting, karena mampu menilai aspek-aspek tersebut secara lebih komprehensif dan objektif.
2. Lebih Objektif dan Mengurangi Bias Personal
Menilai kandidat hanya dari CV dan wawancara rawan bias personal. Rekruter bisa terpengaruh kesan awal atau preferensi tertentu. Sementara itu, kandidat juga bisa saja berbohong ketika menulis CV atau menyiapkan jawaban agar terlihat meyakinkan saat wawancara. Survey Job Applicant Behavior mengungkap bahwa sekitar 70 persen kandidat mengaku pernah berbohong di CV. Sementara itu, 80 persen kandidat mengaku tidak sepenuhnya jujur saat wawancara.

Berbeda dengan analisa cv dan wawancara kerja yang rawan bias personal, tes psikotes menggunakan metode penilaian berbasis data yang objektif. Hal ini meminimalisir terjadinya bias dalam keputusan rekrutmen yang dibuat.
3. Bisa Disesuaikan dengan Kebutuhan Spesifik
Setiap posisi dan kondisi perusahaan punya kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, penilaian kandidat tidak bisa disamaratakan untuk semua peran. Alat tes psikotes kerja seperti Prevue HR dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik suatu posisi.
Melalui Prevue Job Fit, perusahaan dapat menetapkan benchmark karyawan ideal sejak awal, lalu membandingkannya dengan profil kandidat. Pendekatan ini memastikan bahwa tes psikotes yang digunakan benar-benar relevan dan mendukung kebutuhan bisnis, bukan sekadar prosedur tambahan.
4. Memberikan Rekomendasi Penempatan yang Tepat
Selain menilai kecocokan kandidat dengan posisi yang sedang dicari, tes psikotes juga dapat membantu tim rekrutmen memahami peran yang paling sesuai untuk setiap kandidat. Sebagai contoh, laporan Prevue Job Fit dan Succession Planning membantu HR memahami karakter kerja, gaya berpikir, dan potensi kandidat. Informasi ini sangat berguna untuk pengambilan keputusan penempatan yang lebih akurat, sekaligus sebagai referensi talent pipeline untuk kebutuhan posisi lain di masa depan.
Dengan demikian, tes psikotes berkontribusi langsung pada efektivitas organisasi jangka panjang.
5. Mengurangi Resiko Turnover Karyawan
Keputusan rekrutmen yang keliru sering berujung pada turnover karyawan. Studi Harvard Business Review menunjukkan sekitar 80 persen turnover disebabkan oleh rekrutmen yang tidak tepat. Penilaian yang terlalu fokus pada skill dan pengalaman kerja sering melewatkan kecocokan pribadi.
Kandidat bisa terlihat kompeten, tetapi sulit bertahan dalam budaya kerja tertentu. Misalnya, kandidat berorientasi individual ditempatkan di tim yang mengutamakan kolaboratif. Tes psikotes membantu membaca kecocokan ini sejak awal. Dengan begitu, resiko turnover karyawan dikemudian hari bisa diminimalisir.
Rekomendasi Alat Tes Psikotes
Jika perusahaan ingin menghasilkan keputusan rekrutmen yang lebih akurat dan minim risiko, pemilihan alat psikotes yang tepat sangat penting. Prevue HR menawarkan asesmen berbasis sains yang mengukur kemampuan kognitif, kepribadian, dan motivasi kandidat secara menyeluruh. Pendekatan ini memberi gambaran potensi kerja yang tidak terlihat dari CV atau wawancara. Data yang dihasilkan membantu HR menilai kecocokan peran, mengurangi bias, dan meningkatkan retensi.
Dengan memanfaatkan dukungan berbagai laporan Prevue yang komprehensif, serta pendekatan Requisite Organization dari Dr. Elliott Jaques, perusahaan dapat membuat keputusan rekrutmen yang lebih tepat, strategis, dan berkelanjutan.
Untuk informasi lebih lanjut tentang solusi Prevue HR untuk mendukung rekrutmen di organisasi Anda, hubungi Quintave.
Sumber:
- Jaques, E. (1989). Requisite Organization. Arlington, VA: Cason Hall & Co.
- Prevue HR System. (n.d.). Prevue Assessment & Job Fit. https://www.prevuehr.com/solutions/jobfit/
- Forbes. (2023). 70% of Workers Lie on Resumes, New Study Shows. https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2023/11/05/70-of-workers-lie-on-resumes-new-study-shows/
- Harvard Business Review. (n.d.). Hiring and turnover insights.

