Karyawan yang mengalami penurunan performa sering kali langsung dianggap tidak mampu, tidak termotivasi, atau tidak cocok dengan pekerjaannya. Padahal, underperformance tidak selalu sesederhana itu. Dalam banyak kasus, masalah kinerja bisa muncul karena kombinasi berbagai faktor: kemampuan yang belum sesuai dengan tuntutan peran, kurangnya kejelasan ekspektasi, minimnya dukungan manajer, atau ketidaksesuaian antara karakter individu dan lingkungan kerja. Karena itu, mengganti karyawan bukan selalu solusi terbaik. Perusahaan perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya memengaruhi performa karyawan. Di sinilah Prevue Assessment dapat menjadi salah satu alat pendukung untuk membantu perusahaan melihat profil individu secara lebih objektif.
Prevue menggunakan assessment berbasis sains untuk membantu perusahaan memahami potensi kandidat dan karyawan melalui aspek seperti cognitive ability, personality, dan motivations. Insight ini dapat membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih berbasis data, baik dalam rekrutmen, pengembangan, maupun coaching.
Underperformance Tidak Selalu Berarti Karyawan Tidak Mampu
Ketika karyawan tidak mencapai target, langkah paling mudah adalah menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak kompeten. Namun, kesimpulan seperti ini sering kali terlalu cepat. Dalam praktiknya, performa kerja dipengaruhi oleh banyak hal. Karyawan mungkin memiliki kemampuan dasar yang baik, tetapi belum mendapat arahan yang jelas. Ada juga karyawan yang memiliki potensi, tetapi belum ditempatkan pada peran yang sesuai. Sebagian lainnya mungkin membutuhkan coaching, feedback, atau dukungan pengembangan yang lebih tepat.
Dalam Requisite Organization, Dr. Elliott Jaques menekankan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya ditentukan oleh individu, tetapi juga oleh kejelasan peran, akuntabilitas, otoritas, kompleksitas pekerjaan, dan kesesuaian kapasitas individu dengan tuntutan peran. Dengan kata lain, ketika karyawan underperform, perusahaan perlu melihat masalahnya secara sistemik, bukan hanya personal.
Mengapa Mengganti Karyawan Bukan Selalu Solusi?
Mengganti karyawan membutuhkan waktu, biaya, dan energi organisasi. Proses rekrutmen, onboarding, adaptasi budaya, dan pembelajaran peran dapat mengganggu produktivitas tim jika tidak dikelola dengan baik.
Di sisi lain, kinerja karyawan bukanlah hal yang statis. Karyawan yang dulu berprestasi bisa mengalami penurunan performa. Sebaliknya, karyawan yang underperform berpotensi untuk berkembang jika mendapat penanganan yang tepat.
Karena itu, sebelum mengambil keputusan besar seperti mengganti karyawan, perusahaan sebaiknya memahami terlebih dahulu faktor yang memengaruhi performa. Prevue Assessment dapat membantu menyediakan insight tambahan tentang profil kerja individu, tetapi hasilnya tetap perlu dibaca bersama data lain seperti evaluasi kinerja, observasi manajer, kualitas target, dan kondisi kerja sehari-hari.
Tiga Faktor yang Perlu Dilihat Saat Karyawan Underperform
Secara umum, ada tiga area penting yang perlu diperhatikan ketika perusahaan ingin memahami underperformance: capability, confidence, dan clarity. Ketiganya saling berkaitan, tetapi membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda.
1. Capability: Apakah Karyawan Memiliki Kapasitas dan Dukungan yang Dibutuhkan?
Capability berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjalankan pekerjaannya. Namun, istilah ini perlu dipahami dengan hati-hati. Dalam konteks Prevue, Prevue memiliki assessment suite yang mencakup aptitude, motivations, dan personality untuk memberikan gambaran lebih menyeluruh tentang kandidat atau karyawan. Namun, Prevue Assessment tidak boleh diposisikan sebagai satu-satunya alat untuk menilai seluruh kemampuan teknis, pengalaman, atau pengetahuan spesifik seseorang. Untuk menilai skill teknis tertentu, perusahaan tetap perlu melengkapinya dengan evaluasi kerja, observasi langsung, hasil proyek, atau assessment teknis yang relevan.
Dengan membaca hasil assessment secara tepat, perusahaan dapat memahami apakah ada faktor individu yang mungkin berkaitan dengan tuntutan peran. Dari sana, HR dan manajer dapat menyusun langkah pengembangan yang lebih terarah.
2. Confidence: Apakah Karyawan Mendapat Dukungan yang Tepat?
Karyawan bisa saja memiliki kemampuan yang memadai, tetapi tetap tidak menunjukkan performa optimal jika tidak memiliki kepercayaan diri atau merasa kurang aman untuk bertanya, meminta bantuan, atau mencoba pendekatan baru.
Faktor confidence biasanya berkaitan erat dengan kualitas feedback, gaya kepemimpinan, hubungan dengan atasan, serta budaya komunikasi di dalam tim. Karena itu, masalah ini tidak bisa hanya dijawab dengan assessment. Perusahaan perlu melakukan coaching, percakapan manajerial, dan observasi terhadap lingkungan kerja.
Di sini, Prevue Assessment dapat berperan sebagai bahan diskusi, terutama ketika digunakan bersama laporan coaching yang membantu coach memahami kecenderungan individu dalam bekerja.
3. Clarity: Apakah Peran dan Ekspektasi Sudah Jelas?
Banyak masalah kinerja terjadi bukan karena karyawan tidak mau bekerja, tetapi karena mereka tidak benar-benar memahami apa yang diharapkan. Target tidak jelas, prioritas berubah-ubah, wewenang tidak seimbang dengan tanggung jawab, atau ukuran keberhasilan tidak dikomunikasikan dengan baik.
Dalam perspektif Requisite Organization, clarity sangat penting. Jaques menekankan perlunya kejelasan akuntabilitas, otoritas, dan hubungan kerja agar setiap orang memahami kontribusinya terhadap tujuan organisasi.
Jika masalah utama adalah clarity, maka solusinya bukan sekadar pelatihan atau coaching individu. Perusahaan perlu memperbaiki definisi peran, ekspektasi kinerja, proses komunikasi, dan praktik manajerial.
Peran Prevue Assessment dalam Coaching dan Pengembangan

Prevue Assessment dapat membantu perusahaan memahami profil kerja individu secara lebih objektif. Namun, penting untuk menempatkannya secara tepat: assessment bukan alat diagnosis tunggal untuk menentukan semua penyebab underperformance, melainkan alat pendukung untuk memperkaya pemahaman.
Salah satu laporan yang relevan untuk konteks pengembangan adalah Corporate Coach Report. Quintave menjelaskan bahwa laporan ini membekali coach dengan pemahaman komprehensif tentang profil kerja unik seseorang, yang berasal dari skor Motivation dan Personality assessments. Laporan ini juga tersedia dalam dua versi: satu untuk coach dengan saran coaching, dan satu untuk kandidat tanpa saran coaching.
Dengan informasi tersebut, coach dapat mengajukan pertanyaan yang lebih relevan, memahami preferensi kerja individu, dan menyusun percakapan pengembangan yang lebih personal. Pendekatan ini dapat membantu proses coaching menjadi lebih terarah, tetapi tetap perlu dikombinasikan dengan data kinerja dan konteks pekerjaan nyata.
Membuat Intervensi yang Lebih Tepat Sasaran
Setelah faktor yang memengaruhi performa lebih dipahami, perusahaan dapat menentukan intervensi yang lebih relevan. Jika masalahnya berkaitan dengan capability, perusahaan dapat memberikan pelatihan, pendampingan teknis, atau penyesuaian tugas. Jika masalahnya berkaitan dengan confidence, coaching dan dukungan manajer menjadi lebih penting. Namun jika masalahnya adalah clarity, maka organisasi perlu memperjelas peran, target, otoritas, dan akuntabilitas.
Dengan cara ini, Prevue Assessment tidak digunakan untuk memberi label kepada karyawan, melainkan sebagai bagian dari proses pengembangan yang lebih objektif dan manusiawi.
Pendekatan ini juga lebih selaras dengan prinsip Quintave Kinerja Mulia, yaitu membantu organisasi mengambil keputusan berbasis data dan membangun praktik manajerial yang lebih efektif melalui solusi Prevue HR System.
Memahami Karyawan Underperform dengan Lebih Objektif
Karyawan underperform tidak selalu berarti karyawan tersebut tidak layak dipertahankan. Sering kali, penurunan performa merupakan sinyal bahwa perusahaan perlu memahami ulang kesesuaian antara individu, peran, ekspektasi, dukungan manajerial, dan lingkungan kerja.
Dengan menggunakan Prevue Assessment secara tepat, perusahaan dapat memperoleh insight tentang aspek cognitive ability, motivations, personality, dan profil kerja individu. Namun, insight tersebut sebaiknya tidak berdiri sendiri. Hasil assessment perlu dikombinasikan dengan evaluasi kinerja, coaching, observasi manajer, dan kejelasan peran sebagaimana ditekankan dalam Requisite Organization oleh Dr. Elliott Jaques.
Melalui Quintave Kinerja Mulia, perusahaan dapat memahami bagaimana Prevue HR System digunakan untuk mendukung coaching, pengembangan karyawan, dan pengambilan keputusan berbasis data secara lebih akurat dan bertanggung jawab.
Referensi:
- Jaques, E. (1989). Requisite Organization: A Total System for Effective Managerial Organization and Managerial Leadership. Cason Hall & Co.
- Prevue HR System. Assessments & Talent Solutions. (Prevue HR)
- Prevue HR System. Talent Acquisition & Hiring Solutions for Business. (Prevue HR)
- Prevue HR System. The Complete Pre-Employment Testing Assessment Suite. (Prevue HR)
- Quintave Kinerja Mulia. Prevue HR System. (Quintave Kinerja Mulia)
- https://www.cultureamp.com/blog/cost-of-employee-turnover
- https://peopleinsight.co.uk/why-employees-underperform/



