Banyak organisasi berinvestasi pada leadership workshop dengan harapan dapat memperkuat kualitas kepemimpinan sekaligus membangun kultur kerja yang lebih baik. Namun, kultur tidak terbentuk hanya karena perusahaan memiliki slogan, poster nilai, atau satu sesi pelatihan yang inspiratif.
Yang lebih menentukan adalah apa yang terjadi setelah program selesai: bagaimana Manager menetapkan context, memberikan task, menjalankan accountability, menggunakan authority, memberikan feedback, dan membangun working relationships dalam pekerjaan sehari hari.
Dalam Managerial Leadership System Quintave, organisational culture dijelaskan secara praktis sebagai “the ways of doing things in the company.” Artinya, kultur tercermin dalam bagaimana organisasi benar benar bekerja melalui policies, procedures, systems, practices, shared values, language, beliefs, assumptions, dan berbagai kebiasaan yang terus berulang.
Karena itu, leadership workshop yang ingin memberikan dampak lebih jauh perlu membantu Manager menerjemahkan prinsip kepemimpinan ke dalam praktik kerja yang konsisten.
Poster Tidak Cukup untuk Membangun Kultur
Poster, komunikasi, dan penyampaian nilai perusahaan tetap memiliki fungsi. Semuanya dapat membantu organisasi menjelaskan apa yang dianggap penting. Namun, pesan tersebut akan kehilangan kredibilitas ketika praktik sehari hari justru berjalan dengan cara yang berbeda.
Jika organisasi menyatakan bahwa keterbukaan adalah sebuah value, tetapi Subordinates tidak memiliki ruang untuk memberikan input, maka pengalaman kerja sehari hari akan berbicara lebih kuat daripada slogan. Jika accountability dianggap penting, tetapi authority dan working relationships tidak jelas, ketidakjelasan tersebut pada akhirnya turut membentuk cara kerja organisasi.
Dalam materi Quintave, Organisational Values merupakan boundaries bagi conduct seluruh employees. Managers kemudian diharapkan menjadi role model atas values tersebut melalui practices yang mereka gunakan dalam mendapatkan pekerjaan diselesaikan oleh Subordinates.
Dengan kata lain, values tidak cukup hanya dikomunikasikan. Values perlu tercermin dalam cara pekerjaan dikelola setiap hari.
Inilah salah satu alasan leadership workshop perlu bergerak melampaui inspirational leadership menuju managerial leadership yang benar-benar dapat diterapkan dalam role.
Leadership Adalah Accountability dalam Role
Dalam bukunya Requisite Organization: A Total System for Effective Managerial Organization and Managerial Leadership for the 21st Century, Dr. Elliott Jaques memperkenalkan Requisite Organization sebagai suatu pendekatan menyeluruh terhadap organisation structure, managerial leadership, accountability, authority, dan working relationships.

Dalam Requisite Organisation, Manager bukan sekadar title. Manager adalah sebuah role yang membawa accountability atas output immediate Subordinates, mempertahankan tim yang capable menghasilkan output tersebut, serta memberikan effective managerial leadership.
Perspektif ini mengubah fokus sebuah leadership workshop. Pertanyaannya tidak lagi hanya tentang “seperti apa gaya kepemimpinan saya?”, tetapi juga tentang apakah role sudah jelas, apakah Manager memiliki authority yang sesuai dengan accountability, apakah working relationships mendukung pekerjaan, apakah task assignment diberikan dengan cukup jelas, serta apakah feedback dan coaching benar benar menjadi bagian dari managerial work.
Dengan fokus seperti ini, leadership development menjadi jauh lebih dekat dengan realitas organisasi dan pekerjaan sehari hari.
Quintave Managerial Leadership Workshop: Membangun Kultur dari Struktur
Quintave Managerial Leadership Workshop dirancang untuk membantu Manager memahami prinsip Requisite Organisation dan menerapkannya dalam pekerjaan. Program ini membahas human capability, working relationships, accountability and authority, functional alignment, delegation, decision making, hingga action planning untuk real world application.
Nilai utama leadership workshop tidak hanya terletak pada konsep yang dipelajari. Hal yang lebih penting adalah bagaimana practices tersebut diterapkan setelah peserta kembali menjalankan role mereka.
Kultur yang kuat bukan berarti organisasi tidak membutuhkan vision, values, atau komunikasi yang inspiratif. Semua itu tetap penting. Namun, kultur menjadi kredibel ketika apa yang organisasi katakan konsisten dengan bagaimana pekerjaan benar benar dilakukan.
Itulah perbedaan antara values yang dikomunikasikan dan values yang hidup dalam managerial system.
Melalui Quintave Managerial Leadership Workshop, organisasi dapat mulai membangun fondasi tersebut dengan menghubungkan Requisite Organisation, managerial accountability, working relationships, dan Managerial Leadership Practices ke dalam cara kerja sehari hari. Para managers akan belajar bagaimana membangun kejelasan peran, mengatur hubungan kerja lintas tim, serta menetapkan kewenangan dan akuntabilitas secara tegas. Mereka juga dilatih mengambil keputusan pada level kompleksitas yang tepat, melakukan delegasi tugas secara utuh melalui kerangka cpQQT/R (Context, Purpose, Quantity, Quality, Target completion time, dan Resources), hingga mengelola kinerja tim secara objektif dan terukur. Melalui pendekatan ini, leadership workshop tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi mendorong penerapannya dalam pekerjaan sehari-hari.
References



