Tingkat Turnover karyawan yang tinggi dapat menghambat operasional perusahaan. Setiap kali karyawan yang sudah paham ritme kerja memutuskan untuk pergi, produktivitas tim bisa terganggu. Di sisi lain, perusahaan harus mengulang proses rekrutmen untuk mengisi kekosongan posisi yang ada. Proses ini tidak hanya menghabiskan waktu, tapi juga membutuhkan biaya besar hingga karyawan baru siap bekerja. Bahkan, studi Employee Benefit News mencatat bahwa biaya penggantian karyawan yang keluar bisa mencapai 33 persen dari gaji tahunannya.
Selama ini, kita sering berasumsi bahwa tingkat turnover hanya berhubungan dengan gaji, beban kerja, atau tawaran di tempat lain. Itu tidak sepenuhnya salah. Tapi, ada satu hal penting yang sering diabaikan. Studi Harvard Business Review mengungkap bahwa 80 persen turnover karyawan disebabkan oleh keputusan rekrutmen yang keliru. Mengapa hal ini bisa terjadi dan apa kaitannya? Mari kita bahas lebih lanjut.
Keputusan Rekrutmen dan Kaitannya dengan Turnover Karyawan
Rekrutmen merupakan proses penting bagi perusahaan untuk menemukan talenta terbaik. Melalui proses rekrutmen, perusahaan bisa merekrut talenta yang sesuai kebutuhan bisnis. Namun masih banyak kasus dimana tim rekrutmen justru memilih kandidat yang tidak sesuai dengan tuntutan peran, nilai organisasi, atau lingkungan kerja.
Misalnya, kandidat yang dipilih memiliki keterampilan dan pengalaman yang memadai secara teknis. Namun kandidat tersebut tidak cocok dengan budaya kerja perusahaan. Perbedaan nilai, cara kerja, dan pola komunikasi tersebut membuat karyawan sulit berkembang dan merasa frustrasi. Kondisi inilah yang di kemudian hari menyebabkan turnover karyawan.
Mengapa Tim Rekrutmen Bisa Keliru Memilih Kandidat?
Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kesalahan dalam merekrut kandidat. Mulai dari tuntutan waktu yang mepet, keterbatasan sumber daya tim rekrutmen, kriteria peran yang tidak dirumuskan dengan jelas, dan masih banyak lagi. Namun dari berbagai faktor yang ada, salah satu penyebab yang paling umum adalah proses penilaian yang hanya mengandalkan CV dan wawancara kerja.
Survei Job Applicant Behavior oleh ResumeLab pada 2023 mengungkap bahwa 70 persen pekerja mengaku pernah berbohong di CV. Dalam laporan yang sama, 80 persen pekerja mengaku tidak jujur saat wawancara. Disisi lain, tim rekrutmen bisa saja terpengaruh kesan awal, preferensi pribadi, atau favoritisme sehingga penilaian terhadap kandidat menjadi tidak akurat. Dampaknya, kandidat yang dipilih tidak sesuai kebutuhan. Potensi turnover karyawan di kemudian hari juga meningkat.
Lalu Bagaimana Strategi Rekrutmen yang Seharusnya?

Memang, CV dan wawancara merupakan bagian penting dalam proses rekrutmen. CV dapat membantu tim rekrutmen memahami latar belakang kandidat, pengalaman kerja, dan kompetensi dasar. Sementara itu, wawancara dapat menjadi sarana awal bagi rekruter untuk menggali cara berpikir, kemampuan komunikasi, dan sikap kandidat. Dua alat ini memberi gambaran awal yang berguna.
Namun jika penilaian rekrutmen hanya didasarkan pada CV dan wawancara, risiko kesalahan penilaian yang berujung pada turnover karyawan menjadi sangat tinggi. Oleh karena itu, tim rekrutmen perlu alat asesmen yang dapat menilai kandidat secara menyeluruh secara objektif dan berbasis data. Salah satu solusi yang dapat digunakan adalah Prevue Assessment, khususnya melalui laporan Job Fit, yang membantu memastikan kecocokan kandidat dengan tuntutan peran sejak awal.
Prevue Job Fit merupakan laporan asesmen yang menilai kandidat berdasarkan kemampuan, motivasi, dan kepribadian. Penilaian ini dilakukan berbasis data dengan membandingkan profil kandidat terhadap standar peran yang spesifik. Pendekatan ini membantu perusahaan memilih kandidat yang selaras secara keterampilan, nilai, dan perilaku. Penempatan yang tepat sejak awal akan meningkatkan peluang karyawan bertahan lebih lama, berkembang, dan memberikan kontribusi optimal. Hasilnya, keputusan rekrutmen bisa lebih akurat dan risiko turnover karyawan dapat diminimalisir.
Kesimpulan
Turnover karyawan yang tinggi bukanlah masalah yang muncul secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, akar masalahnya terletak pada keputusan rekrutmen yang kurang tepat. Dengan mengandalkan CV dan wawancara saja, perusahaan berisiko salah menilai kandidat dan menghadapi turnover karyawan yang berulang.
Melalui pendekatan Requisite Organization dari Dr. Elliott Jaques dan dukungan Prevue Assessment by Prevue HR System, perusahaan dapat membangun proses rekrutmen yang lebih objektif, akurat, dan berkelanjutan. Hasilnya bukan hanya penurunan turnover karyawan, tetapi juga organisasi yang lebih stabil, produktif, dan siap bertumbuh.
Sources:
- https://www.forbes.com/councils/forbeshumanresourcescouncil/2024/03/29/what-leaders-get-wrong-about-hiring-and-why-it-matters
- https://24974645.hs-sites-eu1.com/hubfs/Industrial%20Solutions%20Research%20report.pdf?hsCtaAttrib=266678697170
- https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2023/11/05/70-of-workers-lie-on-resumes-new-study-shows/
- https://www.forbes.com/sites/johnhall/2019/05/09/the-cost-of-turnover-can-kill-your-business-and-make-things-less-fun/?sh=6b6530837943
- Jaques, E. (1989). Requisite Organization. Arlington, VA: Cason Hall & Co.
- Prevue HR System. (n.d.). Prevue Assessment. Diakses dari https://www.prevuehr.com/


